Langsung ke konten utama

Cari Materi Mengaji ☟

Melamar Pekerjaan Apakah Termasuk Maksiat Lisan ?


Sobat Demak Mengaji saya yakin nih para pembaca ada yang sebagian belum mendapatkan pekerjaan, sudah kesana Kemari belum di terima kerja, tapi jangan khawatir itu mungkin karena memang kamu belum di tempatkan oleh Allah dengan pekerjaan yang terbaik buat kamu, yang penting selalu berusaha dan berusaha, tapi jangan sampai mengemis ngemis ya minta kerjanya. Karena itu gak boleh.. coba simak pembahasan di bawah ini.

Sumber : Aplikasi Kang Santri Menjawab
(PISS-KTB)

PERTANYAAN :
Assalamu'alaikum, dalam kitab Sullam at Taufiq disebutkan : termasuk maksiyat lisan adalah minta harta atau pekerjaan pada orang kaya. Pertanyaan : bagaimana dengan melamar pekerjaan ? syukron 'ala ihtimamikum. [Lina Oktavia].

JAWABAN :
Wa'alaikumsalam. Agama Islam menjaga kemulyaan seorang muslim, menjaga pemeluknya dari tidak memiliki rasa malu dengan menjalani kehinaan dan kerendahan, Islam melarang pemeluknya meminta-minta karenanya saat seseorang merendahkan dirinya atau merengek-rengek dalam permintaan baik saat meminta harta atau pekerjaan seperti pertanyaan diatas maka tidak diperbolehkan dan tergolong maksiat lisan.
Berbeda dengan lamaran pekerjaan karena penilaiannya tergantung pada sisi kecakapan, keahlian, profesionalitas maka tidak tergolong maksiat lisan di atas.
- Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah :
9 - يحرص الإسلام على حفظ كرامة المسلم ، وصون نفسه عن الابتذال والوقوف بمواقف الذل والهوان ، فحذر من التعرض للصدقة بالسؤال ، أو بإظهار أمارات الفاقة ، بل حرم السؤال على من يملك ما يغنيه عنها من مال أو قدرة على التكسب ، سواء كان ما يسأله زكاة أو تطوعا أو كفارة ، ولا يحل له أخذ ذلك إن أعطي بالسؤال أو إظهار الفاقة . قال الشبراملسي : لو أظهر الفاقة وظنه الدافع متصفا بها لم يملك وَفِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ : مَتَى أَذَلَّ نَفْسَهُ أَوْ أَلَحَّ فِي السُّؤَالِ أَوْ آذَى الْمَسْئُولَ حُرِّمَ اتِّفَاقًا وَإِنْ كَانَ مُحْتَاجًا كَمَا أَفْتَى بِهِ ابْنُ الصَّلَاحِ ، وَفِي الْإِحْيَاءِ : مَتَى أَخَذَ مَنْ جَوَّزْنَا لَهُ الْمَسْأَلَةَ عَالِمًا بِأَنَّ بَاعِثَ الْمُعْطِي الْحَيَاءِ مِنْهُ أَوْ مِنْ الْحَاضِرِينَ وَلَوْلَاهُ لَمَا أَعْطَاهُ فَهُوَ حَرَامٌ إجْمَاعًا وَيَلْزَمُهُ رَدُّهُ .ما أخذه ، لأنه قبضه من غير رضا صاحبه ، إذ لم يسمح له إلا على ظن الفاقة . (1) لقوله صلى الله عليه وسلم : من سأل الناس وله ما يغنيه جاء يوم القيامة ومسألته خموش ، أو خدوش ، أو كدوح قيل : يا رسول الله ، وما يغنيه ؟ قال : خمسون درهما أو قيمتها من الذهب (2) وعنه صلى الله عليه وسلم : إذا سألت فاسأل الله ، وإذا استعنت فاستعن بالله (3) وقال عليه الصلاة والسلام : لا ينبغي للمؤمن أن يذل نفسه . (4) أما إن كان محتاجا إلى الصدقة ، وممن يستحقونها لفقر أو زمانة ، أو عجز عن الكسب فيجوز له السؤال بقدر الحاجة ، وبشرط أن لا يذل نفسه ، وأن لا يلح في السؤال ، أو يؤذي المسئول ، ولم يعلم أن باعث المعطي الحياء من السائل أو من الحاضرين ، فإن كان شيء من ذلك فلا يجوز له السؤال وأخذ الصدقة وإن كان محتاجا إليها ، ويحرم أخذها ، ويجب ردها إلا إذا كان مضطرا بحيث يخشى الهلاك إن لم يأخذ الصدقة ، لحديث : لا ينبغي للمؤمن أن يذل نفسه . فإن خاف هلاكا لزمه السؤال إن كان عاجزا عن التكسب . فإن ترك السؤال في هذه الحالة حتى مات أثم لأنه ألقى بنفسه إلى التهلكة ، والسؤال في هذه الحالة في مقام التكسب ؛ لأنها الوسيلة المتعينة لإبقاء النفس ، ولا ذل فيها للضرورة ، والضرورة تبيح المحظورات كأكل الميتة . (1)
__________
(1) نهاية المحتاج 6 / 169 ، كشاف القناع 2 / 273 ، الاختيار لتعليل المختار 4 / 175 - 176
(2) حديث : " من سأل الناس وله ما يغنيه جاء يوم القيامة " . أخرجه الترمذي ( 3 / 32 - ط الحلبي ) من حديث ابن مسعود ، وقال : حديث حسن .
(3) حديث : " إذا سألت فاسأل الله " . أخرجه الترمذي ( 4 / 667 - ط الحلبي ) . من حديث ابن عباس ، وقال : حديث حسن صحيح .
(4) حديث : " لا ينبغي للمؤمن أن يذل نفسه " . أخرجه الترمذي ( 4 / 523 - ط الحلبي ) من حديث حذيفة ، وقال أبو حاتم الرازي : هذا حديث منكر . كذا في علل الحديث ( 2 / 138 - ط السلفية )
(1) نهاية المحتاج 6 / 169 ، كشاف القناع 2 / 273 ، والاختيار 4 / 176 .
Islam menjaga kemulyaan seorang muslim, menjaga pemeluknya dari tidak memiliki rasa malu dengan menjalani kehinaan dan kerendahan, Islam melarang pemeluknya meminta-minta sedekah atau dengan menampakkan tanda-tanda kepapaan bahkan diharamkan meminta-minta (baca mengemis-pent) bagi orang yang memiliki kecukupan baik berupa harta atau kemampuan untuk bekerja dalam dirinya baik yang ia minta berupa harta zakat, harta sedekah ataupun harta kaffaarat (denda) dan tidak dihalalkan baginya mengambilharta tersebut bila pemberiannya karena unsur meminta-minta atau menampakkan kemiskinan.
Sedang bagi orang yang memang benar-benar membutuhkan sedekah, ia pun berhak memilikinya karena kemiskinan atau kelemahannya atau karena ketidakmampuannya bekerja maka diperbolehkan meminta-meminta sekedar memenuhi kebutuhannya (bukan dalam rangka memperkaya diri) dan dengan syarat tidak merendahkan dirinya saat meminta, tidak merengek-rengek saat meminta, tidak menyakitkan yang dia mintai serta tidak mengetahui bahwa hal yang mendorong pemberi saat bersedekah karena rasa malu padanya atau pada orang-orang lainnya maka meminta dengan ketentuan-ketentuan tersebut diperbolehkan, namun bila tidak memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut tidak diperbolehkan, mengambil sedekahnya juga diharamkan meskipun ia dalam kondisi sangat memerlukan, baginya wajib mengembalikan harta yang terlanjur ia terima kecuali ia dalam kondisi darurat yang dapat mengancam jiwanya bila tidak memanfaatkan harta sedekah tersebut berdasarkan hadits :“Tidak semestinya bagi seorang muslim merendahkan dirinya”. [ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 24/95 ].
وَفِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ : مَتَى أَذَلَّ نَفْسَهُ أَوْ أَلَحَّ فِي السُّؤَالِ أَوْ آذَى الْمَسْئُولَ حُرِّمَ اتِّفَاقًا وَإِنْ كَانَ مُحْتَاجًا كَمَا أَفْتَى بِهِ ابْنُ الصَّلَاحِ ، وَفِي الْإِحْيَاءِ : مَتَى أَخَذَ مَنْ جَوَّزْنَا لَهُ الْمَسْأَلَةَ عَالِمًا بِأَنَّ بَاعِثَ الْمُعْطِي الْحَيَاءِ مِنْهُ أَوْ مِنْ الْحَاضِرِينَ وَلَوْلَاهُ لَمَا أَعْطَاهُ فَهُوَ حَرَامٌ إجْمَاعًا وَيَلْزَمُهُ رَدُّهُ .
Dalam Syarh Muslim dan lainnya disebutkan “Saat seseorang merendahkan dirinya atau merengek-rengek dalam permintaan atau menyakiti yang dia mintai maka haram menurut kesepakan Ulama meskipun ia dalam kondisi butuh seperti yang difatwakan oleh Ibn as-Sholaah”Dalam Kitab al-Ihyaa’ disebutkan “Bila seseorang mengambil pemberian dari orang yang memberi sementara ia tahu pendorong hati sang pemberi saat memberikan sesuatu didasari perasaan malu padanya atau pada orang-orang yang hadir, bila tanpa perasaan tersebut sang pemberi tidak akan memberinya maka haram mengambilnya menurut kesepakatan ulama dan pemberiannya wajib dikembalikan. [ Hasyiyah as-Syibro Malisy 14/34 ].
Melamar pekerjaan bukan sesuatu yang tercela, bahkan jika suatu pekerjaan itu sesuai dengan kualifikasi kita, kita dianjurkan untuk memintanya.
قال اجعلني على خزائن الأرض إني حفيظ عليم
Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (Yusuf : 55).
Dalam tafsirnya Imam al-Qurthuby menjelaskan makna ayat ini, salah satunya : Yang ketiga : ayat ini menunjukkan kebolehan seseorang untuk melamar pekerjaan yang mana ia ahli di bidang itu.
الثالثة : ودلت الآية أيضا على جواز أن يخطب الإنسان عملا يكون له أهلا
Wallaahu A'lamu Bis Showaab. [Masaji Antoro, Oshish Al-Fathawi].
Link Diskusi :
www.fb.com/groups/piss.ktb/364886586867489/

Repost by Ali Asegaf

Komentar

Populer Post

Wanita haidl baca tahlil bolehkah ???

Hukum Jual Beli Kucing Menurut Syariah

Wong Sakti

BIOGRAFI KH.M MARWAN A.H (Jragung)

Kontekstual Makna Jihad Dalam Al-Qur'an

Hukum pesan makanan via ojek online menurut syariah

Hukum mengucapkan "Selamat Hari Natal"

Hukum Belajar Ilmu Tentang Haidl/ Nifas

GEBYAR HSN 2018 PCNU KAB. DEMAK

Membangun Generasi Muda NU Desa Sidokumpul

NIKAH & KELUARGA

MATERI FIQIH

KEGIATAN ISLAMI

BIOGRAFI & KISAH

MATERI UMUM

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Untuk Berlangganan Ngaji Online Bersama Demak Mengaji via Email Gratis, Dapatkan kajian Islam terbaru