Langsung ke konten utama

Cari Materi Mengaji ☟

Mendem Drajad (Kyai Semar) Edisi 1


#KyaiSemar (1)
MENDEM DRAJAD

TOKOH Sentral dalam Panakawan yakni Semar, yang membawahi Anak Asuh : Gareng, Petruk, Bagong, dan Para Ksatria Negeri Astina.

Gagasan Kyai Semar, yang sering ditampilkan dalam Lakon Pewayangan oleh Sunan Kali Jaga, merupakan sosok yang layak dijadikan panutan.

Jika kita telusuri, baik dari cerita tutur turun-temurun maupun transkrip kuno, manusia Jawa percaya bahwa Kyai Semar adalah kakek moyang pertama.

Atau sebagai perwujudan dari Manusia Jawa yang pertama. Dialah sosok pengemban TUGAS KHUSUS dari Gusti Kang Murbeng Dumadi, Tuhan Yang Maha Esa.

Konon salah satu di antara sekian makna nama Kyai Semar adalah : Haseming Samar-samar atau Senyumnya Samar-samar.

Disebut demikian karena Kyai Semar dianggap samar wujudnya; dia berwajah laki-laki, tapi perawakannya seperti perempuan dengan perut dan dada besar.

Rambutnya putih dengan kerutan di wajah, menandakan dia sudah lanjut usia. Namun sebaliknya, rambutnya juga berbentuk kuncung seperti umumnya ciri khas anak-anak.

Bibir Kyai Semar tampak selalu tersenyum, tapi matanya menandakan tangis. Pakaiannya Sarung Kawung, sebagai khas para abdi.

Kelebihannya, setiap saat Negeri Astina (Negeri Para Ksatria Pandawa) krusial, justru dari lisannya keluarlah pitutur tingkat tinggi berupa SOLUSI.

Selain samar wujudnya, kadang samar pula pitutur dan piwulang Kyai Semar. Hanya manusia berakal yang akan mampu memahami petunjuknya, baik secara tersirat maupun tersurat.

Di satu sisi, para mistikus Jawa menyebut Kyai Semar sebagai lambang gelap gulita, lambang misteri, lambang ketidaktahuan mutlak, yakni ketidaktahuan kita mengenai ALLAH SWT.

Namun di sisi lain, tokoh yang di kalangan para dalang juga dikenal dengan nama Kyai Lurah Semar Badranaya atau Nur Naya ini, dipercaya sebagai pemilik cahaya tuntunan khas

Seorang penuntun dan pemimpin, yang berkelayakan menjalankan tugas menuntun manusia dengan cahaya ilmunya, ke jalan yang benar sesuai kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Di antara sekian banyak tuntunan yang diajarkan Kyai Semar, berikut beberapa prinsip hidup yang setidaknya dapat kita kaji dan ambil manfaatnya bagi kehidupan kita.

Sebagaimana Kyai Lurah Semar Badranaya ketika diminta nasihat oleh para ksatria anak asuhannya.

“Ngger, akeh menungso podho MENDEM DRAJAT. Ananging podho ora kuat DRAJAT. Mergo podho khianat.”

(Anakku, banyak manusia yang Gila Pangkat atau Kehormatan. Akan tetapi tidak kuat derajat. Lantaran sering berkhianat)

“Noto Ati Ben Urip Mukti. Noto Ilat Ben Ora Kualat. Noto Roso Ben Ora Ciloko. Noto Polah Ben Ora Salah. Syukuri Sing Dadi Peparing Gusti ALLAH SWT.”

(Menata hati biar hidup mulia. Menata tutur kata agar tidak celaka. Menata rasa agar selamat. Menata perilaku agar disegani. Selalu mensyukuri nikmat yang diberikan ALLAH SWT)

“Ojo Kuminter Mundak Keblinger. Ojo Cidro Mundak Ciloko. Mulyo Rekoso Kudu Tetep Dilakoni.”

(Jangan merasa paling pandai agar tak salah arah. Jangan Suka Berbuat Curang Agar Tidak Celaka. Hidup Enak Atau Sengsara Harus Tetap Dijalani)

“Bab Roso Sing Dirasakke. Penak Orane Gumantung Sing Nompo. Soyo Ombo Atine, Soyo Enak Uripe.”

(Masalah Rasa, Tergantung Perasaan. Susah Senang Tergantung Menerima Kenyataan. Makin Luas Keikhlasan Makin Bahagia Hidupnya)

***

SETIAP orang boleh memiliki ambisi, Atau ambisius terhadap ambisinya. Sebagai muslim, cara-cara yang ditempuh harus sesuai Al-Qur’an dan tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Tanpa menafikan bahwa ada yang memiliki impian. Mereka terus berjuang bagaimanapun caranya untuk dapat mencapai apa yang diinginkannya.

Meskipun mereka harus menempuh cara-cara yang tidak baik (kotor), bahkan bertentangan dengan aqidahnya.

Ada yang berusaha sekuat tenaga menyingkirkan rintangan demi rintangan yang menghambat jalan impiannya.

Tak luput pula ada yang hanya bergantung pada kekuatan do’a, namun tidak memaksimalkan usahanya.

Atau sebaliknya, ada yang memaksimalkan kekuatan diri dan do’a, serta yakin bahwa apa yang diusahakan akan berakhir pada tujuannya dengan cara-cara yang baik saja.

Ambil contoh, belakangan ini ramai diperbincangkan Calon Wakil Presiden (Cawapres). Baik calon pendamping Calon Presiden (Capres) Joko Widodo, maupun Prabowo Subiyanto.

Belum lagi, ramai-ramai mendatangi Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tujuannya daftar sebagai Calon Legislatif (Caleg) DPR RI, DPRD I, DPRD II, dan DPD.

Ambisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti keinginan (semangat) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu.

Sedangkan Ambisius adalah berkeinginan keras mencapai sesuatu, dengan penuh ambisi yang tak jarang menabrak etika.

Saudaraku yang dimuliakan ALLAH SWT, ambisi seseorang terhadap kehormatan maka hal itu lebih membinasakan daripada ambisi terhadap harta.

Sesungguhnya mencari kehormatan dunia, ketinggian dan mengejar pangkat dan jabatan tidaklah dilarang.

Namun, selama menjaga etika dan tidak melanggar aturan main yang telah ditentukan adalah sebuah kepatutan.

Berbeda dengan seseorang yang mengejar kekuasaan dengan kesombongan, dan tak lagi mempedulikan etika sosial.

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.”

“Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Qur’an Surah Al Qashash Ayat 83)

Dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra bahwa Baginda Nabi Muhmaad SAW bersabda :

“Kalian akan berambisi atas kekuasaan. Dan kelak kalian akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.”

“Ketahuilah, bahwa ambisi terhadap kehormatan sangat membahayakan pelakunya. Ia akan menghalalkan segala macam cara dalam usahanya mencapai tujuan.”

“Dan sangat membahayakan bagi pelakunya ketika telah mendapatkan kehormatan. Yakni, dengan cara mempertahankan statusnya, meskipun harus melakukan kedhaliman.”

Pantaskah dalam mencapai sebuah tujuan, kemudian kita mengorbankan sesama saudara KAUM MUSLIM ? (bersambung)
(Ali Asegaf)

Komentar

Populer Post

Wanita haidl baca tahlil bolehkah ???

Hukum Jual Beli Kucing Menurut Syariah

Wong Sakti

BIOGRAFI KH.M MARWAN A.H (Jragung)

Kontekstual Makna Jihad Dalam Al-Qur'an

Hukum pesan makanan via ojek online menurut syariah

Hukum mengucapkan "Selamat Hari Natal"

Hukum Belajar Ilmu Tentang Haidl/ Nifas

GEBYAR HSN 2018 PCNU KAB. DEMAK

Membangun Generasi Muda NU Desa Sidokumpul

NIKAH & KELUARGA

MATERI FIQIH

KEGIATAN ISLAMI

BIOGRAFI & KISAH

MATERI UMUM

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Untuk Berlangganan Ngaji Online Bersama Demak Mengaji via Email Gratis, Dapatkan kajian Islam terbaru