Langsung ke konten utama

Cari Materi Mengaji ☟

BIOGRAFI KH.M MARWAN A.H (Jragung)


Biografi KH.M Marwan A.H-
( Pengasuh PonPes Raudlatuth Tholibin,Jragung,Karangawen,Demak)

KH. Muhammad Marwan lahir di desa Jragung Demak pada tanggal 7 Juli 1937. Orang tua beliau bernama Bapak Parmo dan Ibu Srinem. Kedua orang tuanya adalah seorang pedagang biasa namun sangat cinta kepada para kyai. Tiap kali ada acara di desanya yang dihadiri oleh seorang kyai pasti keduanya menyambutnya diurutan baris terdepan, kiranya kehendak Allah akan mewujudkan bahwa putra beliau akan menjadi seorang ulama hingga begitu memuliakan dan tawadhu' kepada para kyai. Apa yang diamalkan oleh kedua orang tua beliau yang pada akhirnya putra mereka berhasil menjadi seorang ulama besar dan sebagai pendiri Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin. Seperti yang di ungkapkan dalam kitab Ta'limul Muta'alim.

من اراد ان يكن ابنه عالما فليكرم الغرباء من الفقهاء وان لم يكن ابنه عالما فحا فدوه عالما
“Barangsiapa yang menginginkan anaknya kelak menjadi seorang yang ‘alim maka hendaknya memuliakan para ulama dan apabila anaknya tidak menjadi ‘alim maka cucunya yang akan menjadi seorang ulama".

Pada suatu hari simbah kyai Abdullah Sajad mendapat firasat yakni akan munculnya seorang ulama besar di Jragung, sejak kecil beliau dijadikan sebagai anak angkatnya, Kyai Abdullah Sajad mendidiknya dengan penuh perhatian layaknya seorang bapak kepada anaknya, setelah dewasa beliau menimba ilmu di Salatiga untuk ngaji pada Kyai Ishom bin Abdul Jalil Mbanca'an Salatiga, kemudian beliau meneruskan belajarnya di Pondok Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen, di sana berguru pada KH. Mushlih bin Abdurrahman, selama di Futuhiyyah beliau mendapat gemblengan lahir batin hingga mendapat kepercayaan menjadi guru besar mursyid “Thariqah Qadariyyah Naqsabandiyyah". Selain di PP. Futuhiyyah, beliau pernah nyantri di salah satu Pondok Pesantren di daerah Sarang Rembang, dan juga di Pare Kediri Jawa Timur. Setelah di pandang oleh gurunya (simbah KH. Muslih) syari'ahnya sudah mampu dan cukup, beliau mendapat restu untuk menghafalkan Al-Qur'an, kemudian beliau di dawuhi menghafalkan di hadapan Mbah KH. Arwani Kudus, yang paling terkesan oleh beliau sebelum berangkat ke Kudus, beliau sowan dulu ke Simbah Kyai Siroth Solo yang masyhur ke'arifannya. Beliau mendapat dawuh “Sliramu ngapalke Qur’an sepuluh wulan opo sepuluh tahun ( kamu menghafal qur’an sepuluh bulan apa sepuluh tahun). Akhirnya beliau pun berfikir, sepuluh bulan berat, sepuluh tahun juga berat, sama-sama berat. Singkat cerita beliau mendapat pertolongan dari Allah swt. yakni dalam kurun waktu sepuluh bulan, beliau bisa menghafal al-Qur’an dan di lanjutkan Qira'ah Sab'ah dua tahun di hadapan Simbah KH. Abdul Wahab Kudus atas restu Simbah KH. Arwani.

Dari Kudus inilah, beliau mulai berjuang untuk menegakkan agama Islam. Perjuangan tersebut di awali dengan mendirikan Pondok Pesantren di Jragung Demak, konon beliau berkeinginan mendirikan Pondok Pesantren di Sumatra, namun Simbah KH Arwani tidak merestui sehingga beliau mendirikan Pondok Pesantren di Jragung dengan diberi nama "Raudlathuth Thalibin" dan Alhamdulillah atas restu sang guru, perjuanganpun sampai di Sumatra.

Dari Pondok Pesantren inilah, beliau mulai dikenal masyarakat luas, dari kalangan awam hingga pejabat, semuanya menaruh hormat kepada beliau, karena ilmu dan amalnya yang ikhlas semata - mata karena Allah, beliau juga terkenal karena tawadlu'nya bahkan setiap ngaji beliau sering berkata/dawuh :

 تواضع تكن كالنجم لحا للنا ظر # على طباقه الماء وهو رفيع

Rendahkan dirimu maka engkau laksana bintang yang bersinar bagi orang yang memandang, seperti hamparan air yang selalu diatas walaupun mengalir ke bawah

ولاتك كالدخان يعلو بنفسه # الى طباقه الجو وهو وضيع

Janganlah kamu seperti asap yang membumbung tinggi dengan sendirinya ke angkasa sedangkan asap itu rendah tak punya arti

Dengan tawadlu', seorang berilmu mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah, dan seperti itulah kepribadian beliau mendapat sanjungan "Ora ono kyai seng tawadlu' zaman saiki, koyo tawadlu'e simbah kyai Marwan ( Tidak ada kyai yang tawadlu’ pada zaman ini seperti tawadlunya simbah kyai Marwan)" (Dawuh KH. Achmad Muthohar Mranggen).

Semangat perjuangan yang dimiliki beliau sangat besar, tak pernah surut walau banyak aral yang melintang, banyak sudah buah karya dan pemikiran-pemikiran beliau untuk mengibarkan bendera islam serta ikut andil dalam mencerdaskan bangsa.

Baca Juga :
 
Dalam bidang pendidikan formal beliau merintis berdirinya yayasan Miftahul 'Ulum (MI, Madin, Mts) dan sebelum naik haji beliau mendirikan SMU, yang kesemuanya di persembahkan untuk masyarakat Jragung Demak khususnya, kaum muslimin pada umumnya.

Mbah KH. M. Marwan, AH merupakan Ulama yang berjiwa besar, berwawasan nasional dan menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban, sudah pasti cita-citanya yang luhur akan selalu menjadi bukti, sekalipun beliau telah tiada tapi namanya tetap hidup sapanjang masa.

Beliau wafat pada tanggal 20 Mei 2002 M /6 Rabiul Awal 1423 H. tepat pukul 20.25 WIB. Di RSI Roemani Semarang, beliau menderita penyakit sejak dari tanah suci seusai menunaikan ibadah haji.
Tidak ada seorang yang tahu kapan ajal itu tiba, yang ada hanya firasat atau tanda - tanta yang baru dapat di pahami setelah ajal itu tiba. ketika naik haji kali yang ke-4 pada tahun 2002 tidak seperti yang sebelumnya, beliau memberi wasiat kepada para santri, kepada keluarga khususnya kepada anak mantunya yakni KH. A. Asrori Lathif Alhafidz “Semongso-mongso aku ono udzur ingkang nerusake pengajian thoriqoh anakku asrori ( Sewaktu-waktu aku ada udzur, maka nanti yang meneruskan pengajian thariqah anakku Asrori” Ini seakan menjadi tanda bahwa beliau akan pergi selamanya.

Sekian lama beliau dirawat di rumah sakit tidak pernah mengeluh sedikit pun, namun beliau tetap tawakal kepada Allah swt. Sampailah di hari kamis pada tanggal 17 Mei 2002 M /2 Rabi'ul Awal 1423 H di mana hari itu hari bersejarah menjelang detik-detik terakhir beliau sempat mengkhatamkan Al-Qur'an walau dalam keadaan berbaring. Malam harinya kira - kira pukul 02.00 WIB beliau berwasiat kepada para santri “Kabeh santriku tak jaluk tetep istiqamah ono pondok, nderes lan maju menyang Asrori, maju menyang Asrori podo karo maju menyang aku ( Semua santriku saya minta tetap istiqamah di pondok, mengaji dan maju setoran al-qur’an kepada Asrori. Maju setoran alqur’an kepada Asrori sama saja seperti maju setoran di hadapanku). Keadaan beliau sudah sangat kritis sehingga oleh dokter beliau ditempatkan di ruang intensif. Di ruang inilah beliau kembali berwasiat kepada santri - santri “Aku jalukke ngapuro kabeh santri, aku wis ora biso mulang ( Aku tolong mintakan maaf kepada semua santri, aku sudah tidak bisa mengajar lagi)” Sabtu pagi tanggal 19 Mei 2002 M./4 R, Awal 1423 H. jam 10.00 WIB.

Pada hari ahad kondisi beliau semakin menurun, tepat ba'da maghrib malam senin tanggal 20 Mei 2002 M./5 R. Awal 1423 H. beliau berwasiat kepada santri terdekat beliau yang bernama Syarqawi AH. “Syarqawi rene, aku ojo kok tinggal, mengko kiro-kiro jam songo aku arep lungo suwe ( Syarqawi kemarilah, aku jangan kamu tinggalkan, nanti sekitar jam 9 aku akan pergi lama)”. Dan kenyataan pukul 20.25 WIB beliau pulang kehadirat Allah swt. Dengan membaca:

 استغفرالله العظيم الذى لااله الاهوالحى القيوم واتوب اليه

Demikian akhir dari orang yang sholeh yang dekat dengan Allah swt. seakan-akan beliau mengetahui sesuatu yang bakal terjadi.

انّاللّه وانّ اليه راجعون

Pada hari senin 21 Mei 2002 M./6 R. Awal 1423 H desa Jragung bagaikan lautan manusia, mereka datang untuk berta'ziah, memberi hormat terakhir kepada Mbah KH. M. Marwan, AH. Hari itu juga Jragung cerah tak berawan namun hujan air mata cukup deras membanjiri pondok pesantren Raudlatuth Thalibin.

Mbah KH. M. Marwan dikebumikan untuk selama-lamanya, namun setiap waktu tak henti - hentinya para santri dan para peziarah membaca Al - Qur'an di Makam beliau, dan semoga kita bisa mengambil suri tauladan darinya. Amiin Ya Rabbal ‘Alamin

ان الله يعلى درجاته فى الجنة وينفعنا به وبعلومه ويمدنا باسراره وانواره ويعيد علينا من بركاته
ويرزقنا ببركاته ويحفظنا بجاه عندالله فى الدين والدنيا والأخره ... امين

Komentar

Populer Post

Wanita haidl baca tahlil bolehkah ???

Hukum Jual Beli Kucing Menurut Syariah

Wong Sakti

Kontekstual Makna Jihad Dalam Al-Qur'an

Hukum pesan makanan via ojek online menurut syariah

Hukum mengucapkan "Selamat Hari Natal"

Hukum Belajar Ilmu Tentang Haidl/ Nifas

GEBYAR HSN 2018 PCNU KAB. DEMAK

Membangun Generasi Muda NU Desa Sidokumpul

NIKAH & KELUARGA

MATERI FIQIH

KEGIATAN ISLAMI

BIOGRAFI & KISAH

MATERI UMUM

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Untuk Berlangganan Ngaji Online Bersama Demak Mengaji via Email Gratis, Dapatkan kajian Islam terbaru