Langsung ke konten utama

Cari Materi Mengaji ☟

HARI RAYA MALAIKAT


ADA Empat Hari Raya di Jagad Raya ini. Dua di Bumi, yang dikenal dengan Idhul Fitri dan Idhul ‘Adha. Sedang di Langit, dikenal dengan Lailatul Baro’ah dan Lailatul Qadhar.

“Sesungguhnya malaikat-malaikat di langit memiliki dua malam hari raya, sebagaimana orang-orang Islam di bumi memiliki dua hari raya. Idhul Fitri dan Idhul ‘Adha.”

“Hari raya bagi Para Malaikat ialah pada Lailatul Bara'ah, yaitu Malam Nisfu Sya'ban dan Lailatul Qadhar.”

(Sumber : Kitab Al Raqamul Ibrizi fi Syarahi Mukhtashar Tibrizi (Syarah Mukhtashar Tibrizi), Karya Taqiyyudin as-Subki. Ia dilahirkan pada 1 shafar 683 H di kota Sabak Al-Abid, Al-Munafiyah. Bermadzhab Imam Syafi’i)

As-Subki dalam tafsirnya menyebut, bahwa Malam Nisfu Sya'ban itu menutup dosa-dosa setahun, Malam Juma't menutup dosa seminggu dan Malam Lailatul Qadhar menutupkan dosa seumur hidup.

Ketahuilah bahwa Jin, Burung-burung, Ikan dan Binatang buas turut berpuasa pada Nisfu Sya’ban, yakni tanggal 13, 14 dan 15 Hijriah atau 14, 15 dan 16 Hijriah.

Tidakkah kita mengingat pada diri kita sendiri ? Sungguh merugi diri kita, mengapa kita yang manusia bisa kalah taat dengan makhluk lainnya ?

Perbedaan merayakan Hari Raya antara manusia dan malaikat adalah, terlihat dari tata cara atau tradisi masing-masing.

Jika manusia memperingati pada siang harinya, namun malaikat malam hari, mulai ba’da Maghrib sampai Fajar.

Bila kaum muslim memperingati dengan cara, malam hari raya Takbiran, kemudian tertidur lelap. Pada pagi harinya, melaksanakan sholat Ied di Masjid atau Lapangan.

Usai shalat, selanjutnya menikmati santapan hidangan menu makanan, ketupat atau makanan lainnya. Dilanjutkan saling mengunjungi sanak keluarga, famili, dan rekan kerja atau sahabat.

Mereka saling silaturrahmi, serta saling maaf memaafkan antar sesama di hari kemenangan tersebut. Setelah itu, ada yang mengisi Lebaran ini dengan mengunjungi tempat-tempat wisata.

Berbeda dengan Para Malaikat ALLAH SWT. Mereka memperingati saat kemenangannya, mulai Ba’da Maghrib sampai Fajar.

Pada malam itu mereka memperbanyak Ruku’, Sujud, Bertasbih, Berdzikir, Membaca Sholawat.

Selain itu mendoakan dan meminta ampun bagi Ummat Nabi Muhammad SAW agar terbebas dari dosa dan siksaan Api Neraka.

Masya ALLAH SWT, pemandangan yang sungguh Luar Biasa. Seandainya manusia mengetahui bagaimana kebahagiaan Para Malaikat di Lailatul Bara’ah (Malam Nisfu Sya’ban) ini, pasti akan takjub.

Hadits dari Usamah ra, ia berkata : “Ya Rasulullah SAW aku tidak pernah melihatmu berpuasa satu bulan dari bulan bulan ini, seperti puasa dalam bulan Sya'ban.”

Sabda Rasulullah SAW : “Wahai Usamah, itu adalah satu bulan yang kebiasaannya manusia lengah darinya, antara Rajab dan Ramadhan.”

“Sya'ban adalah satu bulan yang di dalamnya diangkat amal-amal ini kepada ALLAH SWT, maka sebab itu aku suka kalau amalku diangkat sedang aku dalam keadaan puasa.”

Diantara Hikmah Malam Nisfu Sya’ban antara lain, Tujuh Pintu langit terbuka sampai terbit fajar. ALLAH SWT melimpahkan rahmat, dan menerima do’a para hamba-Nya.

Kemenangan bagi orang-orang yang ruku’, sujud, berdoa, berdzikir, menangis karena takut pada ALLAH SWT, dan orang yang selalu mengajak pada kebajikan.

Bagi orang-orang yang syirik (menyekutukan ALLAH SWT), minum minuman keras (peminum arak), durhaka kepada kedua orang tua, dan berzina (penzina), do’anya TERTOLAK.

Demikian pula mereka yang selalu bermusuhan dengan sesama muslim, berjualan dengan sumpah palsu (berbohong), pengadu domba (bermuka dua), pemarah dan pendendam.

Termasuk para ahli bid’ah, pemakan suap (pemakan riba), suka menghasut/dengki (tukang fifnah), membenci orang lain (saudara/tetangga), atau membunuh orang lain tanpa sebab.

Dan juga orang-orang pembuat (pembeli patung), para tukang sihir, kahin (peramal), benci kepada sahabat Nabi SAW, dan pemimpin dzolim.

Saudaraku yang kami cintai, mari kita mengisi Bulan Sya’ban ini dengan kegiatan positif, dengan meningkatkan kwalitas ibadah.

Bila memungkinkan, berpuasalah pada pertengahan Bulan Sya’ban atau Pusa Ayyamul Bidh, tanggal 13-15 H atau 27-30 Mei 2018.

Sekaligus pada malam Nisfu Sya’ban (Insyallah Senin, 30 April 2018), atau usai menjalankan Sholat Maghrib, membaca Al Fatihah 3 x, Istighfar 99 x, Sholawat Nabi SAW 33 x, dan Surah Yasiin 3 x.

(Note : Versi Kalender Muhammadiyah (Hisab), Nisfu Sya’ban jatuh pada Minggu, 29 April 2018.  Sedang Lembaga Falakiah NU, Lembaga Antariksa dan Penerbangan (LAPAN), dan Pemerintah jatuh pad Senin, 30 April 2018)

Amalan ini adalah Ibadah Sunnah, boleh dilaksanakan atau ditinggalkan. Semoga ALLAH SWT mengampuni seluruh dosa kita. Aamiinn Yaa Robb.

Komentar

Populer Post

Wanita haidl baca tahlil bolehkah ???

Hukum Jual Beli Kucing Menurut Syariah

Wong Sakti

BIOGRAFI KH.M MARWAN A.H (Jragung)

Kontekstual Makna Jihad Dalam Al-Qur'an

Hukum pesan makanan via ojek online menurut syariah

Hukum mengucapkan "Selamat Hari Natal"

Hukum Belajar Ilmu Tentang Haidl/ Nifas

GEBYAR HSN 2018 PCNU KAB. DEMAK

Membangun Generasi Muda NU Desa Sidokumpul

NIKAH & KELUARGA

MATERI FIQIH

KEGIATAN ISLAMI

BIOGRAFI & KISAH

MATERI UMUM

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Untuk Berlangganan Ngaji Online Bersama Demak Mengaji via Email Gratis, Dapatkan kajian Islam terbaru