Langsung ke konten utama

Cari Materi Mengaji ☟

Wejangan Sunan Kalijaga


WEJANGAN SUNAN KALIJAGA KEPADA UMAT AKHIR ZAMAN

"Yen pasar ilang kumandange... Yen kali wis ilang kedunge... Yen wong wadon wis ilang wirange... mlakuho topo lelono..njajah deso milang kori ojo nganti/ngasi bali yen durung bali patang sasi golek wisik songko sang Hyang Widhi..."

Artinya :

> Yen pasar ilang kumandange...
Jika pasar sudah mulai hening. Maksudnya jika perdagangan sudah tidak dengan tawar-menawar, karena banyaknya mall dan pasar swalayan yang berdiri. Kata orang2 tua di tanah Jawa ini dahulunya semua pasar memakai sistem tawar menawar (ijab qabul), sehingga suaranya begitu keras terdengar dari kejauhan seperti suara lebah yang mendengung.

Ini bermakna tadinya adanya kehangatan dalam social relationship di masyarakat, tapi sekarang sudah hilang. Biarpun kita sering ke plaza atau ke supermarket ratusan kali, kita tidak saling kenal dengan pengunjung atau para pelayan dan cashier di tempat itu.

> Yen kali wis ilang kedunge...
Jika sungai sudah mulai dangkal sehinga hilanglah kedungnya. Jika sumber air sudah mulai kering. Maksudnya jika para alim ulama sumber ilmu sudah mulai wafat satu persatu, tanda ilmu mulai dicabut dari muka bumi. Sehingga orang tak berilmu menjadi pemimpin agama & dimintai fatwa. Maka ini alamat bahwa dunia mau
diQiamatkan Allah SWT.

Ulama ditamsilkan seperti air yang menghidupkan hati hati manusia yang gelap tanpa cahaya hidayah.

> Yen wong wadon wis ilang wirange...
Jika wanita sudah tidak punya rasa malu.

> Mlakuho topo lelono njajah deso milang kori
Berjalanlah bertapa lelana. Artinya bermujahadah, susah payah dalam perjalanan ruhani, spiritual (suluk), riyadlah atau perjalanan fi sabilillah.

> Ojo nganti/ngasi bali yen durung bali patang sasi
Jangan pulang sebelum kembali 4 bulan/masa.

> Golek wisik songko sang Hyang Widhi
Mencari petunjuk, ilham, hidayah dan kepahaman ruhani dari Dzat yang Maha Esa.

Pesan Sunan Kalijaga ini ditujukan kepada umat akhir jaman dengan sebelumnya menyebut tanda-tanda akhir jaman.
Dan saran beliau untuk melakukan pendekatan kepada Allah melalui perjalanan Ruhani (suluk) mencari petunjuk & hidayah dari-Nya.

Pesan Sunan Kalijaga

“Yen wis tiba titiwancine kali-kali ilang kedunge,pasar ilang kumandange, wong wadon ilangwirange, mangka enggal-enggala tapa lelana njlajah desa milang kori, patang sasi aja
ngasik balik yen durung entuk pituduh saka Gusti Allaah”.

“Jika sudah tiba jamannya di mana sungai-sungai hilang kedalamannya, pasar kehilangan keramaiannya, para wanita kehilangan rasa malunya, maka segeralah menjalankan
perjalanan spiritual dari desa ke desa empat bulan lamanya, jangan kembali sebelum mendapatkan peetunjuk dari Allaah”.

KALI-KALI ILANG KEDUNGE(BANYAK SUNGAI MENJADI DANGKAL)
Mengandung makna, banyak manusia berilmu yang sudah tidak mahu mengamalkan ilmunya. Di jaman yang serba modern ini, seperti sudah tidak ada sesuatu yang gratis. Manusia terpola dalam kehidupan konsumtif dan komersial, sehingga rasa sosial menjadi luntur. Jika ingin mendapatkan
ilmu maka harus membayar mahal. Ringkasnya banyak orang-orang berilmu mengkomersilkan illmunya.

PASAR ILANG KUMANDANGE(PASAR MENJADI SEPI)
Mengandung makna, tempat-tempat kebaikan seperti Masjid, Mushalla, Majlis Ta’lim dan Pondok Pesantren menjadi sepi, pasar adalah tempat berbelanja segala kebutuhan hidup, begitu juga tempat-tempat ibadah dan ilmu merupakan kebutuhan pokok manusia dalam memenuhi kewajibannya
kepada Allaah. Orientasi hidup manusia hanyalah memenuhi kebahagiaan dunia dan mengesampingkan kebutuhan ahirat. Hidup tanpa pengendalian diri dan lebih condong
pada kehidupan hedonis materialistik.

WONG WADON ILANG WIRANGE(WANITA KEHILANGAN RASA MALUNYA)
Mengandung makna, wanita modern tidak merasa tabu lagi mengeksploitasi keindahan tubuhnya, sepertinya mereka bangga kalau bagian-bagian tubuh yang semestinya disembunyikan dan ditutupi itu menjadi sebuah tontonan. Wanita yang seharusnya menempatkan dirinya sebagai madrasah pertama bagi anak-anak mereka jutru menghinakan dirinya dengan pakaian yang selayaknya tidak pantas ditiru anak-anak. Selain dalam hal berpakaian, banyak wanita yang berhias diri ketika keluar rumah tapi tak pernah berhias untuk suaminya di rumah.
Jika sudah terjadi demikian, mangka enggal-enggala tapa lelana njlajah desa milang kori, patang sasi aja ngasik balik yen durung entuk pituduh saka Gusti Allaah(maka segeralah menjalankan perjalanan spiritual dari desa ke desa empat bulan lamanya, jangan kembali sebelum mendapatkan petunjuk dari Allaah), maknanya adalah, manusia harus segera meninggalkan jaman yang seperti itu, tidak
mudah tergerus kemajuan jaman, tapi tetap konsisten mempertahankan nilai-nilai agama dan budaya,
teruslah konsisten, teruslah istiqamah memegang kebenaran, sampai Allaah memberi jalan petunjuk.

SAKBEGJABEGJANE WONG KANG LALI, LUWIH BEGJA WONG KANG TANSAH ELING LAN WASPADA

Komentar

Populer Post

Wanita haidl baca tahlil bolehkah ???

Hukum Jual Beli Kucing Menurut Syariah

Wong Sakti

BIOGRAFI KH.M MARWAN A.H (Jragung)

Kontekstual Makna Jihad Dalam Al-Qur'an

Hukum pesan makanan via ojek online menurut syariah

Hukum mengucapkan "Selamat Hari Natal"

Hukum Belajar Ilmu Tentang Haidl/ Nifas

GEBYAR HSN 2018 PCNU KAB. DEMAK

Membangun Generasi Muda NU Desa Sidokumpul

NIKAH & KELUARGA

MATERI FIQIH

KEGIATAN ISLAMI

BIOGRAFI & KISAH

MATERI UMUM

BERLANGGANAN VIA EMAIL

Untuk Berlangganan Ngaji Online Bersama Demak Mengaji via Email Gratis, Dapatkan kajian Islam terbaru